Arsip untuk Juni, 2007

UJIAN NASIONAL DAN SD INPRES

Juni 6, 2007

Pernahkan anda masuk ke SD INPRES di pedalaman ?  saya masih ingat tahun 1972 gencar dibangun. Walaupun sekolahan tersebut sudah diperbaiki tetapi masih sangat tidak manusiawi. Pernahkan kita memasuki SD di pinggiran Jakarta ? Berapa tahunkah kita sudah merdeka ? Berapa banyakkah anggaran pendidikan yg sdh dikeluarkan  selama ini untuk pembangunan sekolah dasar khususnya ? Tersentak dan menangis hati kita bila melihat sekolah2 SD yg sangat tidak manusiawi. Sekolah yg hampir roboh,  genting yg hancur, tiang2 penyangga yg hampir roboh, atap2 yg bocor dan terbuka, bangku2 sekolah yg hampir habis dimakan rayap, lantai semen yg menjadi tanah. Anak2 sekolah yg kumuh2, belum lagi kita lihat guru2 dan metode belajar mengajarnya. Saya kira ini harus cepat diperbaiki oleh pemerintah,  Potensi2 bangsa serta semua pihak membantu dan berfikir untuk memberikan yg terbaik bagi generasi penerus bangsa. hancur dan rusaknya sekolah2 dasar di daerah2 dan pedalaman luput dari perhatian. menghasilkan hasil didik yang tidak setaraf, demikian juga untuk sekolah lanjutannya.mungkin bila disetarafkan dalam Ujian Nasional anak2 pedalaman sangat sedikit yang bisa lulus. Sehingga para guru dan kepala sekolah mengambil jalan pintas agar muridnya lulus dg berbagai cara. Saya sangat tidak setuju dalam kondisi seperti tersebut diatas kemudian Ujian Nasional disamakan utk seluruh wilayah Indonesia. sebagai contoh untuk lulus ujian Sekolah Calon Bintara di TNI ataupun POLRI kalau soal2nya dg standard pusat akan sangat sedikit calon yg lulus dari daerah2, sedangkan mereka haruslah diberikan jatah peluang yg sama agar dapat turut berperan dalam pembelaan negara dan melayani masyarakat. itulah salah satu tuntutan keadilan dari daerah. SO WHAT ? 

PRIORITAS PENANGANAN KORBAN LAPINDO

Juni 6, 2007

masuk penampungan pengungsi korban lumpur sidoarjo siapapun orangnya akan menangis.mereka berdesakan diruangan sempit yg tidak manusiawi,suami istri giliran tempat kalau mau menyalurkan hasratnya,dipojok ruangan itu juga,masalah MCK,makan,dll.tdk heran kalau 50 persen menderita stress dan sudah 5 yg gila.karena sebelumnya mereka hidup tenteram dg keluarga dirumah dan halaman.tiba2 skrg hrs berdesakan sengsara tanpa kepastian.memandang bekas rumah dan kampunghalaman terbenam lumpur.pemerintah katanya ada dana 600 milyard rph,tapi kok infrastruktur dulu yg dibangun sementara rakyat membutuhkan relokasi perumahan secepat mungkin.semestinya relokasi perumahan untuk para pengungsi korban lumpurlah yang terlebih dulu dibangun.adapun ada yg tidak setuju,atau menghendaki ganti rugi dan lain2 seyogyanya dipikirkan belakangan setelah pr korban ditempatkan agar mereka tidak stress dan gila.ganti rugi setelah mereka ditempatkan hrs dilaksanakan se adil2nya.mereka adalah rakyat kita sebagai korban lapindo.cepatlah ditolong,dibantu agar tangisan tidak menjadi tetesan darah penghabisan.