kita patut bergembira dg ditandatanganinya perjanjian ekstradisi antara indonesia dg singapura.namun perjalanan penerapannya perlu ratifikasi dg persetujuan DPR,utk hukum di indonesia.disamping itu perlu dikaji pasal2 dlm hukum masing2 negara untuk pelaksanaan di lapangan.setelah masing2 fihak menjalin komitment,antara aparat penegak hukum juga harus menjalin hubungan,kesepakatan,konsisten dan komit melaksankannya.hasil akhir tentu saja tertangkapnya buronan indonesia yg lari ke singapura,kmd dibawa ke indonesia dan diadili menurut hukum/ketentuan di indonesia.kita tunggu langkah tegas dan tepat para penegak hukum.mudah2an menjadi kenyataan sesuai harapan bangsa dan negara.amiin.
April 28, 2007 pukul 1:10 pm
Selamat malam Jendral. Malam ini saya menemui kejutan, secara tidak sengaja saya membaca blog ini. Angkat topi karena Bapak sebagai Purnawirawan Pati Polri mau bikin blog. Usia boleh lanjut, tapi semangat tetap muda. Saya rasa baru Pak Nurfaizi saja yang sempat bikin blog diantara pensiunan pati polisi lainnya. Selamat Pak.
Salam hangat, Koko Tegoeh.
(Saya adalah putra dari alm. Drs. Tegoeh Soehardjo – PTIK angkatan II)
April 29, 2007 pukul 4:13 pm
Ass.wrwb. Om Nur, ini Eman temannya Fardan, yang juga di DPP Demokrat. Menurut saya, ekstradisi dengan Singapura memang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Suatu Prestasi yang sungguh membanggakan dan menjadi catatan sejarah bagi Negara Kesatuan RI. di saat pencitraan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mulai melemah, hal ini dapat menaikkan pencintraan beliau.Informasi yang saya peroleh, hal ini mengenai ekstradisi dengan singapura justru dilakukan oleh seseorang yang notabene diluar dari struktur kepemerintahan yang ada. Hal ini dapat mencerminkan bahwa kinerja kabinet yang sekarang belum dapat dioptimalkan secara menyeluruh, sehingga peran daripada elemen-elemen di luar struktur Pemerintahan ternyata masih diperlukan. walaupun Penanda tanganan Ekstradisi dengan Singapura ini terdapat mungkin “bergaining” dengan Presiden RI kita terhadap struktur kepemerintahan yang ada sekarang, namun kita perlu bersyukur, karena Perjanjian Ekstradisi dengan Singapura dapat dilakukan
Wass.WrWb
Eman A. Setiawan
DPP Demokrat Bid. Penggalangan Politik
Mei 7, 2007 pukul 9:16 am
Pak Nurfaizi, mana dong tulisan yang lain. Respon di blog-blog sebelah positif lho pak…..
Mei 14, 2007 pukul 8:35 am
Ujung Tombak Polri
NURFAIZI terbilang perwira polisi yang kariernya cemerlang.
Betapa tidak, baru Februari tahun lalu Kolonel Nurfaizi yang
menjabat Kaditserse Polda Metro Jaya naik pangkat menjadi
brigadir jenderal, ketika ia diangkat menjadi Kepala Dinas
Penerangan Kepolisian RI (Kadispen Polri). Sekarang Nurfaizi
akan mendapat jabatan baru: Komandan Korps Reserse Polri (Dan
Korserse). Jabatan ini muncul setelah jajaran Polri mengalami
validasi. Dengan jabatan baru itu, bintang Nurfaizi akan
bertambah satu, menjadi mayor jenderal.
Selama kariernya sebagai polisi, memang banyak kasus besar
yang berhasil ia tangani. Tapi namanya meroket ketika menjabat Kepala Direktorat Serse Polda Metro Jaya, Hampir semua kasus yang menarik perhatian masyarakat berhasil dibongkarnya. Sebutlah kasus
pembunuhan keluarga Rohadi di Jakarta Timur, dan kasus Harnoko Dewantono alias Oki.
Bagaimana dengan jabatan barunya? “Saya siap bertugas di mana
saja,” kata pria kelahiran Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, 27
Juli 1947. Ayahnya, Syaifurohman, adalah Komandan Lasykar
Hisbullah dengan pangkat terakhir kapten. Setelah revolusi
fisik berakhir, sebagai anggota ABRI, Syaifurohman ditugaskan
ke Medan. Di kota inilah Nurfaizi masuk SD. Tapi sebelum ia
tamat SD, keluarganya sudah dipindah ke Purwokerto, Jawa
Tengah. Di sini Nurfaizi menamatkan SD dan SMP. Baru mau ia
menginjakkan kaki ke SMA, ayahnya ditugaskan ke Irian Jaya,
dalam Operasi Trikora. Belum sempat ia menamatkan SMA,
keluarganya dipindah lagi ke Purwokerto.
Begitu lulus SMA, ia kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi
Nasional (STTN), Jakarta. Tapi begitu naik ke tingkat II, ia
berhenti kuliah dan mendaftar ke Akabri tahun 1968, dan lulus
tahun 1971. Tak lama setelah diwisuda, Nurfaizi dipercaya
menjadi Kapolsek Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Setelah cukup
lama di lapangan, ia melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
Ilmu Kepolisian tahun 1977, dan lulus tahun 1980.
Perwira bertangan dingin ini terhitung banyak mengalami
pendidikan di luar negeri. Pada 1981, ia mengikuti pendidikan
reserse di Bundees Kriminal Amt, Jerman Barat, selama dua
tahun. Pada tahun 1990, ia menempuh pendidikan penanggulangan
kejahatan kerah putih di Oxford, London. Dan pada 1995, ia
mengikuti pendidikan penanggulangan kejahatan terorganisasi di
Jepang.
Bagaimana dengan jabatan barunya? Menurut Nurfaizi, tantangan
Polri di masa depan tak lagi individual, konvensional, dan
lokal, melainkan bersifat massal, internasional, dan canggih.
Pembentukan Dan Korserse, menurut Nurfaizi, untuk
mengedepankan fungsi reserse sebagai tulang punggung Polri.
“Reserse adalah ujung tombak dari criminal justice system,”
katanya. Karena itu, Dan Korserse secara hierarki bertanggung
jawab langsung kepada Kapolri atau Wakapolri. Dan karena itu
pula, Nurfaizi merasa tertantang untuk berbuat sesuatu yang
terbaik di pos baru ini.
Kini, di usia 50 tahun, Nurfaizi tampak segar dan awet muda.
Resepnya? Ayah satu putra dan tiga putri ini mengaku biasa
joging delapan kilometer, seminggu tiga kali. Selain itu?
“Taat beribadah,” kata suami Isye Mulyani ini.